Ada yang menarik pada capaian siswa sekolah dasar (SD/MI) sepanjang tahun 2023 hingga 2024. Capaiah siswa seolah-olah melejit pasca pandemi. Namun, jika kita membedah data panel longitudinal dari 65.000 lebih observasi tingkat SD, kita akan menemukan bahwa lompatan raksasa di tahun 2024 tersebut tidak lebih dari sekadar efek jangka pendek.

Bukti empiris dari pemodelan regresi panel Fixed Effects (FE) secara memperlihatkan pola halusinasi ini (data regresi dapat dilihat pada artikel Mengapa Agenda Pembangunan Pendidikan Pasca-Pandemi Mengalami Kelumpuhan di Pedesaan?. Pada tahun 2024, koefisien runtun waktu absolut melesat drastis sebesar +3,483 poin pada kemampuan Literasi (LIT). Jika dibedah pada model dampak spasial wilayah pedesaan (rural), keunggulan absolut MI atas SD terlihat dari selisih koefisien Literasi sebesar $6,776 – 1,316 = +5,460$ yang mengonfirmasi ketangguhan dasar kelompok madrasah. Sementara itu kemampuan Numerasi (NUM) melonjak hingga +11,408 poin dibandingkan tahun 2021. Lonjakan ini kian dipertegas oleh koefisien interaksi spesifik pada variabel Tahun 2024 × Jenis Sekolah (NUM) yang bernilai positif kuat dan signifikan secara statistik. Koefisiennya +3,903 untuk LIT dan +4,062 untuk NUM. Angka-angka di atas kertas ini seolah memvalidasi bahwa gelontoran anggaran triliunan rupiah untuk pembagian gawai massal dan adopsi aplikasi pelaporan guru berhasil membuahkan hasil. Sepertinya proyek digitalisasi makro mereka adalah senjata ampuh kognitif anak bangsa.
Namun, realitas data pada tahun 2025 menunjukkan bahwa keunggulan akselerasi kognitif SD atas MI mendadak turun secara signifikan dan kehilangan kekuatan statistik utamanya. Koefisien interaksi Tahun 2025 × Jenis Sekolah (NUM) anjlok ke angka -0,399 pada LIT dan +0,806 pada NUM dengan nilai p > 0,05 (tidak signifikan).
Kontras yang ekstrem antara lompatan tahun 2024 dan penurunan tahun 2025 ini secara ontologis membuktikan bahwa intervensi yang dipaksakan secara top-down bersifat kosmetik.
Paket anggaran fantastis karena tingginya biaya implementasi di lapangan nyatanya hanya mampu membeli kepatuhan administratif sesaat. Begitu efek kejut dari pembagian perangkat digital dan pemaksaan pengisian borang (form) di aplikasi itu jenuh, performa kognitif riil siswa langsung menemui batas kapasitas pedagogis riilnya. Ditambah lagi dengan fakta infrastruktur riil bahwa ketersediaan komputer Sekolah Dasar secara nasional masih terpuruk di angka 5,31%.
Sebaliknya, kelompok MI yang tidak tersentuh intervensi se-agresif SD justru menunjukkan trayektori jangka panjang yang jauh lebih stabil tanpa guncangan koreksi penurunan yang drastis karena ditopang oleh kekuatan religious-social capital domestik mereka. Tahun 2024 bukanlah tahun keberhasilan. Tahun tersebut merupakan tahun halusinasi statistik yang mengorbankan ketahanan kognitif jangka panjang anak-anak kita demi klaim keberhasilan politik kurikulum semu.