TRENDING
Guna merespons hasil PISA 2025, pembuat kebijakan pendidikan di Indonesia harus melampaui paradigma pengadaan sarana fisik atau pergantian nama kurikulum semata. Pemulihan kognitif nasional harus difokuskan pada perbaikan kualitas interaksi pembelajaran di dalam kelas. Kebijakan perlu membiasakan siswa bernalar atas data dan ketidakpastian. Kebijakan juga perlu menghentikan formalitas gawai pasif, serta menumbuhkan daya agen siswa agar mereka siap menjadi warga dunia yang tangguh di era Antroposen.
Klaim setelah pengujian menyeluruh: • Literasi: Siswa MAN mencatatkan keunggulan sekitar 3,5 poin dibanding siswa SMAN, signifikan secara statistik, setelah status sosial ekonomi, Kurikulum Merdeka, status urban, dan komposisi wilayah geopolitik dikendalikan. Ini adalah temuan yang cukup kokoh, meski dengan besaran yang lebih moderat dari perkiraan awal. • Numerasi: Keunggulan numerasi MAN atas SMAN tidak terbukti signifikan secara statistik setelah komposisi wilayah dikendalikan. Perbedaan yang tampak pada model awal sebagian besar dijelaskan oleh konsentrasi sampel MA di Indonesia Barat, bukan oleh faktor kelembagaan.
Temuan empiris berbasis data skala masif ketimpangan desa kota ini memberikan beberapa catatan krusial bagi arah kebijakan pembangunan pendidikan nasional ke depan. Pertama, intervensi anggaran dan program afirmasi pemerintah tidak bisa lagi disamaratakan, melainkan harus difokuskan secara agresif untuk menutup jurang fasilitas dan mutu pembelajaran di wilayah kabupaten/perdesaan. Kedua, penguatan karakter dan iklim sekolah harus diintegrasikan dengan pemerataan akses teknologi digital agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata lintas wilayah, mengikis ketimpangan struktural yang selama ini menghambat daya saing sumber daya manusia Indonesia.
Arah kebijakan pembangunan pendidikan perlu mengalami pergeseran paradigma. Pertama, reorientasi anggaran harus didorong menuju penguatan kapasitas non-fisik, seperti pembangunan budaya sekolah dan kepemimpinan instruksional. Kedua, pendekatan intervensi harus dilakukan secara inklusif lintas sektoral antara sekolah umum dan madrasah karena keduanya menunjukkan responsivitas yang serupa terhadap kualitas lingkungan belajar. Terakhir, pengukuran evaluasi nasional harus terus menempatkan indikator karakter sebagai penggerak utama penentu daya saing kognitif anak didik.
MOST POPULAR
- 1 Fiskal DKI Kuat Namun Struktur Mulai Rapuh
- 2 Mengelola Program Besar? Apa yang Bisa Dipelajari dari MBG?
- 3 Memutus Rantai Jebakan Enklave Ekspor: Kedaulatan Rantai Pasok dan Masa Depan Ekspor
- 4 'The Seventh Magnificent' Persoalan Perumahan Rakyat
- 5 Tantangan Vokasi, Keselarasan Investasi Fasilitas dan Kesejahteraan Lulusan
LATEST NEWS
- Memuat artikel terbaru... in}/wp-json/wp/v2/posts?per_page=



