Selama ini, diskursus peningkatan mutu pendidikan nasional sering terkurung dalan logika fasilitas fisik. Penambahan jumlah komputer di laboratorium TIK atau pemenuhan sertifikasi guru sering dianggap sebagai peluru perak untuk mendongkrak capaian kognitif siswa.

Namun, temuan dari model ekonometrika Fixed Effects data panel nasional SMP Negeri periode 2021–2025 menunjukkan kondisi yang berbeda. Iklim keamanan sekolah (penekanan perundungan) dan rasa aman psikologis adalah prediktor terkuat capaian kognitif, sementara fasilitas fisik seperti komputer justru menunjukkan korelasi negatif yang konsisten.
Bukti Empiris Dampak Keamanan Sekolah dan Fasilitas
Hasil estimasi model regresi panel terhadap puluhan ribu observasi sekolah memperlihatkan bagaimana variabel-variabel penentu berinteraksi secara nyata terhadap kemampuan Literasi dan Numerasi siswa.
| Variabel | Numerasi | Literasi |
|---|---|---|
| BUL | 0.135*** | 0.207*** |
| (0.004) | (0.005) | |
| SES_sekolah | -0.010** | -0.004 |
| (0.005) | (0.006) | |
| jumlah_komp_milik | -0.090*** | -0.064*** |
| (0.010) | (0.012) | |
| prop_pendidik_sertifikasi | -0.036*** | -0.018*** |
| (0.002) | (0.003) | |
| 2021.tahun | 0.000 | 0.000 |
| 2022.tahun | 0.567*** | 4.191*** |
| 2023.tahun | 6.143*** | 7.223*** |
| 2024.tahun | 8.311*** | 10.561*** |
| 2025.tahun | 7.015*** | 9.681*** |
| _cons | 45.315*** | 43.525*** |
| Observasi | 33389.000 | 33386.000 |
| R-squared Within | 0.506 | 0.493 |
Catatan: Standard errors in parentheses. * p < 0.1, ** p < 0.05, *** p < 0.01

Anomali dan Kekuatan Rasa Aman
Jika dicermati lebih mendalam dari hasil model di atas, terdapat beberapa temuan krusial yang meruntuhkan asumsi konvensional tata kelola sekolah. Pertama, Indeks Keamanan Sekolah (BUL) adalah Kunci Utama (+0.135*** untuk Numerasi, +0.207*** untuk Literasi). Variabel iklim keamanan mencatatkan koefisien positif yang sangat signifikan. Ini membuktikan bahwa lingkungan sekolah yang aman, suportif, dan bebas dari ancaman perundungan merupakan fondasi mutlak. Tanpa rasa aman, otak siswa berada dalam mode bertahan hidup (survival mode) alih-alih menyerap pengetahuan.
Ketiga, konsistensi paradoks infrastruktur (-0.090*** untuk komputer). Menariknya, bahkan setelah kita mengontrol faktor keamanan sekolah, variabel kepemilikan komputer tetap menunjukkan koefisien negatif yang signifikan. Ini mempertegas tesis sebelumnya bahwa pengadaan fasilitas keras tanpa integrasi pedagogis yang matang dan pemeliharaan fungsional hanya menjadi “aset pasif” atau beban administratif belaka.
Kelima, kontrol tren waktu nasional untuk menyerap guncangan nasional. Model ini juga telah menyertakan variabel tahun (2021 hingga 2025) untuk menyerap guncangan atau adaptasi nasional secara serentak (misalnya penyesuaian format asesmen dari tahun ke tahun), memastikan bahwa koefisien faktor sekolah yang kita lihat murni mencerminkan dinamika internal sekolah itu sendiri.
Lindungi Siswa, Benahi Ekosistem
Temuan panel SMP Negeri 2021–2025 ini memberikan pesan kebijakan yang sangat telak bagi pengambil keputusan di sektor pendidikan. Memperbaiki mutu sekolah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengirim ribuan unit komputer ke sekolah atau memperdebatkan administratif semata.
Fokus anggaran dan energi institusi pendidikan harus segera dialih-ratakan pada penciptaan lingkungan psikologis yang aman. Selama perundungan dibiarkan menggerus mental siswa dan laboratorium komputer hanya berstatus sebagai barang pajangan terkunci, selama itu pula mutu kognitif anak bangsa akan jalan di tempat. Sekolah harus menjadi tempat yang aman untuk berpikir, bukan sekadar gudang penyimpanan perangkat keras.