Diskusi mengenai mutu pendidikan di Indonesia kerap terjebak pada rata-rata pencapaian makro yang menyamaratakan kondisi antarwilayah. Namun, analisis ekonometrika mendalam berbasis data mikro tingkat individu siswa (student-level microdata) dari Rapor Pendidikan SMP dan MTs dengan ukuran sampel masif (mencapai lebih dari 269.000 observasi) membukakan realitas yang lebih tajam. Model regresi terkontrol tinggi menunjukkan bahwa jurang pemisah geografis antara perkotaan dan perdesaan memegang peranan paling dominan dalam menentukan prestasi kognitif, jauh melampaui faktor-faktor penunjang internal sekolah lainnya.

“Bonus Perkotaan” dalam Literasi dan Numerasi
Dengan mengontrol status sosio-ekonomi (SES) siswa, kepemilikan perangkat digital, fasilitas penunjang, hingga tren tahunan, model estimasi ini mengungkap adanya ketimpangan struktural yang masif antara wilayah perkotaan (Kota) dan perdesaan (Kabupaten).
Tabel 1. Analisis Mikro Siswa dengan Kontrol Wilayah
| VARIABLES | Numerasi | Literasi |
|---|---|---|
| is_mts = 0 | – | – |
| ACH | 0.0567*** (0.000965) | 0.200*** (0.00207) |
| jenis_wilayah = 2, KOTA | 0.921*** (0.102) | 3.288*** (0.284) |
| SES_sekolah | 0.0614*** (0.00286) | 0.193*** (0.00739) |
| jumlah_komp_milik | 0.222*** (0.0120) | 0.658*** (0.0345) |
| jumlah_perpus | -0.195*** (0.0472) | -0.574*** (0.131) |
| Tahun Data Rapor Pendidikan = 2021, omitted | – | – |
| Constant | 44.29*** (0.194) | 29.65*** (0.470) |
| Observations | 269,088 | 264,482 |
| R-squared | 0.063 | 0.172 |

Hasil regresi menunjukkan bahwa siswa yang mengenyam pendidikan di wilayah perkotaan menikmati keunggulan skor yang sangat signifikan dibandingkan wilayah kabupaten. Pada kemampuan numerasi, sekolah di perkotaan mencatatkan tambahan skor sebesar 0.921, sementara pada kemampuan literasi lonjakannya mencapai 3.288 poin. Angka ini mengonfirmasi bahwa urban-rural divide masih menjadi determinan ketimpangan mutu paling kentara di Indonesia, di mana akses terhadap ekosistem pendukung belajar di kota memberikan keistimewaan struktural yang sulit diimbangi oleh sekolah di daerah.
Peran Indeks Karakter dan Infrastruktur Digital
Di tengah dominasi disparitas wilayah tersebut, dimensi karakter dan iklim satuan pendidikan (ACH) tetap menunjukkan konsistensi pengaruh yang positif dan signifikan secara statistik. Setiap peningkatan satu satuan indeks karakter berasosiasi dengan kenaikan skor kognitif—dengan dampak yang lebih terasa pada kemampuan literasi (0.200) ketimbang numerasi (0.057). Hal ini memperkuat argumen bahwa pembangunan budaya sekolah yang kondusif tetap menjadi fondasi penting bagi daya serap akademik siswa.
Sementara itu, variabel fasilitas pendukung seperti jumlah komputer (jumlah_komp_milik) terbukti memberikan daya ungkit yang kuat dan signifikan terhadap literasi dan numerasi. Sebaliknya, variabel fisik perpustakaan menunjukkan korelasi negatif dalam model mikro ini, yang mengindikasikan bahwa keberadaan fisik gedung perpustakaan belum tentu berbanding lurus dengan efektivitas pemanfaatannya di tingkat satuan pendidikan akar rumput tanpa intervensi fungsional yang memadai.
Implikasi Kebijakan
Temuan empiris berbasis data skala masif ini memberikan beberapa catatan krusial bagi arah kebijakan pembangunan pendidikan nasional ke depan. Pertama, intervensi anggaran dan program afirmasi pemerintah tidak bisa lagi disamaratakan, melainkan harus difokuskan secara agresif untuk menutup jurang fasilitas dan mutu pembelajaran di wilayah kabupaten/perdesaan. Kedua, penguatan karakter dan iklim sekolah harus diintegrasikan dengan pemerataan akses teknologi digital agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata lintas wilayah, mengikis ketimpangan struktural yang selama ini menghambat daya saing sumber daya manusia Indonesia.