Bukan Karena Kurikulum: Mengurai Keunggulan Literasi Siswa MAN, Setelah Faktor Wilayah Dikendalikan

Bukan Karena Kurikulum: Mengurai Keunggulan Literasi Siswa MAN

(Judul lama: “Bukan Karena Kurikulum? Rahasia di Balik Lompatan Nilai Siswa MAN”)

Catatan Pembaruan (revisi [tanggal]) Artikel ini adalah versi revisi dari analisis yang sebelumnya tayang dengan judul serupa. Dua koreksi dilakukan setelah verifikasi ulang menyeluruh terhadap dataset dan model: (1) narasi deskriptif pada bagian awal artikel sebelumnya mengutip angka yang tidak sesuai dengan tabel yang menyertainya—telah diperbaiki agar konsisten; (2) model regresi awal belum mengontrol komposisi wilayah geografis (Indonesia Barat/Tengah/Timur), padahal sampel Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dalam data ini ternyata sangat terkonsentrasi di Indonesia Barat. Setelah dikontrol, klaim keunggulan numerasi MAN tidak lagi terbukti signifikan secara statistik, sementara klaim keunggulan literasi tetap bertahan namun dengan besaran yang lebih moderat. Redaksi memilih mempublikasikan koreksi ini secara terbuka sebagai bagian dari komitmen integritas riset EPIC Policy Analytics.

Mengurai keunggulan Madrasah Aliyah
Mengurai keunggulan Madrasah Aliyah

Ada satu asumsi yang jarang dipertanyakan dalam persepsi publik tentang mutu pendidikan Indonesia: bahwa SMA Negeri, dengan sumber daya dan citra akademik yang lebih mapan, semestinya unggul dibanding Madrasah Aliyah Negeri (MAN) yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. Data panel Asesmen Nasional 2021–2025 pada jenjang menengah atas negeri menantang asumsi itu—meski tidak sesederhana yang pertama kali terlihat.

Data Deskriptif: Siapa yang Unggul di Atas Kertas

Tabel 1 dan Tabel 2 membandingkan rata-rata skor Literasi dan Numerasi murni tanpa pengendalian variabel lain (SES, kurikulum, wilayah) di tiga jenis institusi.

Tabel 1. Perbandingan Rata-rata Skor Literasi Siswa Lintas Institusi

Jenis SekolahRata-rataSimpangan BakuN
MA67,759,4199
SMA64,7311,381.624
SMK61,459,62733

Tabel 2. Perbandingan Rata-rata Skor Numerasi Siswa Lintas Institusi

Jenis SekolahRata-rataSimpangan BakuN
MA54,856,9699
SMA54,507,821.624
SMK52,346,46733

Secara deskriptif, siswa MA mencatatkan rata-rata skor Literasi tertinggi (67,75 poin), disusul SMA (64,73 poin) dan SMK (61,45 poin). Pola serupa—meski dengan jarak yang jauh lebih tipis—terlihat pada Numerasi, di mana MA (54,85) sedikit mengungguli SMA (54,50) dan SMK (52,34). Namun perbandingan mentah semacam ini rawan bias: MA, SMA, dan SMK dalam sampel ini tidak tersebar merata secara sosial-ekonomi maupun geografis, sehingga diperlukan model regresi untuk mengisolasi kontribusi murni status kelembagaan.

Model Awal: Keunggulan yang Tampak Meyakinkan

Model regresi panel Random Effects dengan cluster-robust standard errors pada tingkat sekolah (546 klaster) mengontrol status Kurikulum Merdeka, status sosial ekonomi sekolah, dan status urban/kota, dengan SMA Negeri sebagai kategori acuan.

Tabel 3 (Model Awal). Estimasi Regresi Panel pada Skor Literasi dan Numerasi

VariabelLiterasiNumerasi
Kategori MA (vs SMA)+6,127***+2,992***
Kategori SMK (vs SMA)-2,871***-1,835***
Kurikulum Merdeka+0,955**+0,826**
SES Sekolah+0,279***+0,215***
N observasi1.2991.299
N klaster sekolah546546

Signifikansi: *** p<0,01, ** p<0,05. Cluster-robust standard errors pada tingkat sekolah.

Pada tahap ini, hasilnya tampak dramatis: siswa MA unggul 6,1 poin pada Literasi dan hampir 3 poin pada Numerasi dibanding siswa SMA, bahkan setelah status sosial ekonomi dan kurikulum dikendalikan.

Uji Ketahanan: Faktor Wilayah yang Terlewat

Sebelum menyimpulkan bahwa keunggulan ini murni institusional, kami menjalankan pengecekan lanjutan yang penting: bagaimana komposisi geografis sampel MA, SMA, dan SMK dalam data ini?

Tabel 5. Komposisi Wilayah Geopolitik per Jenis Sekolah (%)

Jenis SekolahIndonesia BaratIndonesia TengahIndonesia Timur
MA72,024,04,0
SMA49,032,318,7
SMK49,934,016,1

Hasilnya mengungkap ketimpangan sampel yang signifikan: 72 persen sekolah MA dalam data ini berasal dari Indonesia Barat, dan hanya 4 persen dari Indonesia Timur—jauh lebih rendah dibanding representasi SMA (18,7%) dan SMK (16,1%) di wilayah yang sama. Mengingat riset kami sebelumnya menunjukkan Indonesia Timur secara konsisten mencatatkan capaian yang jauh lebih rendah di seluruh jenjang pendidikan, komposisi ini berpotensi menciptakan keunggulan semu bagi MA yang sesungguhnya berasal dari lokasi geografis, bukan dari faktor kelembagaan.

Kami menjalankan ulang model dengan menambahkan kontrol wilayah geopolitik (Indonesia Tengah dan Indonesia Timur, dengan Indonesia Barat sebagai acuan):

Tabel 6 (Model Diperluas). Estimasi Regresi Panel dengan Kontrol Wilayah

VariabelLiterasiNumerasi
Kategori MA (vs SMA)+3,466**+1,368 (tidak signifikan)
Kategori SMK (vs SMA)-3,227***-2,035***
Indonesia Timur (vs Barat)-12,905***-7,643***
Indonesia Tengah (vs Barat)-2,871***-2,404***
Kurikulum Merdeka+0,860*+0,710**
SES Sekolah+0,281***+0,216***
N observasi1.2991.299
N klaster sekolah546546

Signifikansi: *** p<0,01, ** p<0,05, * p<0,1. Cluster-robust standard errors pada tingkat sekolah.

Hasilnya jelas: koefisien keunggulan Numerasi MA menyusut dari +2,99 menjadi +1,37 dan kehilangan signifikansi statistik (p=0,185)—artinya klaim keunggulan numerasi MAN atas SMAN tidak lagi dapat dipertahankan sebagai temuan yang meyakinkan secara statistik begitu komposisi wilayah dikendalikan. Sebagian besar dari apa yang tampak sebagai “keunggulan numerasi MA” pada model awal ternyata adalah artefak dari konsentrasi sampel MA di Indonesia Barat yang memang berkinerja lebih tinggi secara umum.

Sementara itu, koefisien Literasi MA tetap signifikan secara statistik (p=0,025) namun menyusut hampir separuh, dari +6,13 menjadi +3,47 poin. Ini adalah temuan yang lebih moderat, tapi tetap bermakna: bahkan setelah memperhitungkan bahwa sampel MA condong berasal dari wilayah yang lebih maju, siswa MA masih mencatatkan keunggulan literasi sekitar 3,5 poin dibanding siswa SMA yang sebanding secara sosial-ekonomi, kurikulum, dan wilayah.

Kesimpulan yang Direvisi

Klaim yang dapat dipertahankan setelah pengujian menyeluruh:

  • Literasi: Siswa MAN mencatatkan keunggulan sekitar 3,5 poin dibanding siswa SMAN, signifikan secara statistik, setelah status sosial ekonomi, Kurikulum Merdeka, status urban, dan komposisi wilayah geopolitik dikendalikan. Ini adalah temuan yang cukup kokoh, meski dengan besaran yang lebih moderat dari perkiraan awal.
  • Numerasi: Keunggulan numerasi MAN atas SMAN tidak terbukti signifikan secara statistik setelah komposisi wilayah dikendalikan. Perbedaan yang tampak pada model awal sebagian besar dijelaskan oleh konsentrasi sampel MA di Indonesia Barat, bukan oleh faktor kelembagaan.

Mengenai kemungkinan mekanisme di balik keunggulan literasi yang tersisa—dugaan kami sebelumnya menyebut kombinasi antara paparan teks keagamaan yang intensif, ekosistem kedisiplinan pada sebagian model MAN berasrama, dan pola seleksi input siswa—kami tetap memandangnya sebagai hipotesis yang masuk akal untuk menjelaskan sisa keunggulan literasi yang terverifikasi (+3,47 poin). Namun kami belum menguji mekanisme-mekanisme itu secara langsung, dan sampel MA dalam data ini relatif kecil (34 sekolah unik, sebagian besar terkonsentrasi di wilayah urban dan Indonesia Barat)—sehingga generalisasi ke seluruh populasi MAN nasional perlu dilakukan dengan hati-hati.

Catatan Metodologis

Model ini menggunakan spesifikasi Random Effects dengan cluster-robust standard errors pada tingkat sekolah, bukan Fixed Effects, karena status kelembagaan (MA/SMA/SMK) tidak berubah dari waktu ke waktu untuk sekolah yang sama sehingga tidak dapat diestimasi dalam kerangka Fixed Effects. Konsekuensinya, asumsi kunci Random Effects—bahwa efek sekolah yang tak teramati tidak berkorelasi dengan status kelembagaan—tidak dapat diuji secara langsung (uji Hausman tidak tersedia untuk variabel time-invariant dalam kerangka ini) dan perlu diterima sebagai batasan model.

Perbandingan dengan capaian kualitas mengajar guru MAN yang sempat disinggung pada analisis pilar guru sebelumnya bersumber dari instrumen dan model yang terpisah dari analisis ini, sehingga tidak dapat disatukan secara statistik sebagai satu pengujian tunggal—melainkan dua observasi independen yang perlu dibaca secara terpisah.

Data proporsi guru bersertifikasi tidak tersedia sama sekali untuk satuan pendidikan MA dalam dataset ini, sehingga variabel tersebut tidak dapat disertakan sebagai kontrol tambahan dalam model manapun pada analisis ini.

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada pembaca yang turut mendorong verifikasi ulang atas analisis ini. EPIC Policy Analytics berkomitmen mengoreksi temuan secara terbuka ketika pengujian lanjutan mengungkap kebutuhan revisi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top