Phronesis

EPIC Policy Analytics

Phronesis: Kearifan Praktis Ketika Prosedur Tidak Lagi Cukup

Ruslan Effendi · Seri teori risiko kritis nasional

Seri ini sudah menjawab empat pertanyaan: apa yang nyata (Struktur Kausal), bagaimana teori ditata (Theory Framework Explorer), apa yang kita pegang sebagai radar risiko (Global Elites & Polycrisis Triggers), dan bagaimana bernalar menuju mekanisme (Retroduksi). Tulisan ini menjawab yang terakhir: apa yang kita lakukan dengan pengetahuan yang kita tahu bisa salah?

Tiga jenis pengetahuan

Dalam Etika Nikomakhea (Buku VI), Aristoteles membedakan beberapa kebajikan intelektual. Tiga di antaranya relevan di sini:

Episteme

Pengetahuan ilmiah tentang yang universal dan niscaya.

Techne

Keterampilan teknis untuk membuat atau mengerjakan sesuatu.

Phronesis

Kearifan praktis: menimbang apa yang baik dilakukan dalam situasi khusus yang berubah-ubah.

Tata kelola krisis banyak membahas dua yang pertama: ilmu tentang ancaman dan teknik respons seperti SOP dan peringatan dini. Phronesis menyangkut bagian yang tidak bisa ditulis habis dalam aturan. Bent Flyvbjerg (Making Social Science Matter, 2001) membawanya ke ilmu sosial lewat empat pertanyaan nilai-rasional: ke mana kita menuju, apakah itu diinginkan, siapa yang untung dan rugi melalui mekanisme kekuasaan apa, dan apa yang harus dilakukan.

Epistemic fallacy dalam tindakan

Dalam pengetahuan

Menyamakan catatan dengan realitas.

Dalam tindakan

Menyamakan “prosedur dijalankan” dengan “krisis tertangani”.

Sebuah instansi bisa lulus semua daftar periksa kepatuhan dan tetap gagal ketika guncangan datang. Daftar periksa menguji apa yang bisa diperiksa sebelum krisis; krisis menuntut sesuatu yang tidak ada di daftar.

Di mana praksis kita bergantung pada penilaian

Pilih komponen dari bagian Praksis pada peta Global Elites untuk melihat di mana aturan berhenti.

Perhatikan B1 dan B2. Penolakan atas beban formulir baru adalah pengakuan bahwa proseduralisasi berlebihan melahirkan kepatuhan semu. Menerima bahwa negara tidak dapat mencegah semua manuver global, lalu menaruh upaya pada cadangan penyangga, adalah phronesis: tahu apa yang bisa dan tidak bisa dijangkau.

Phronesis bukan lisensi diskresi

Menekankan penilaian bisa terdengar seperti membuka pintu bagi kesewenang-wenangan. Phronesis yang sehat justru butuh disiplin kelembagaan:

Catat alasan dan alternatif yang ditolak

Setiap keputusan strategis disertai catatan: informasi apa yang ada, opsi apa yang dipertimbangkan, dan mengapa satu dipilih.

Tinjau secara independen setelah kejadian

Yang ditinjau bukan hanya hasil, tetapi kewajaran penalaran pada saat keputusan dibuat, dengan informasi yang saat itu tersedia.

Buka kepada publik sejauh keadaan mengizinkan

Bagian dari meaning-making dalam kepemimpinan krisis: keputusan yang dijelaskan lebih mudah dipertanggungjawabkan.

Libatkan pandangan majemuk

Tata kelola kolaboratif memberi koreksi atas bias satu pengambil keputusan. Dalam tradisi Aristotelian, orang bijak dikenali dari penilaiannya yang diakui komunitasnya.

Membangun phronesis secara institusional

Keahlian praktis tumbuh dari pengalaman atas kasus beragam. Dreyfus dan Dreyfus menggambarkan lintasannya dari pemula yang bergantung pada aturan menuju ahli yang menilai situasi secara menyeluruh. Kapasitas ini bisa dirancang:

  • TTX dengan kejutan tak terskrip, dengan evaluasi atas kualitas penalaran, bukan hanya kesesuaian skrip.
  • Tinjauan pasca-kejadian yang merekam alasan, bukan sekadar kronologi.
  • Perpustakaan kasus keputusan sulit untuk dipelajari calon pengambil keputusan.
  • Rotasi lintas sektor bagi calon pemimpin lapis strategis.

Peran pengawasan: dari kepatuhan ke kebermaknaan

Pemeriksaan kepatuhan tetap penting. Bila hanya itu yang dilakukan, pengawasan memperkuat epistemic fallacy dalam tindakan: instansi merasa aman karena lulus pemeriksaan, bukan karena siap. Pengawasan yang matang juga bertanya apakah penalaran di balik keputusan masuk akal pada saatnya. Satu kehati-hatian: menilai keputusan krisis hanya dari hasil akhirnya tidak adil, karena hasil dipengaruhi hal-hal yang tidak bisa diketahui pengambil keputusan ketika memutuskan. Itu sebabnya catatan alasan penting bagi pemeriksa.

Penutup

Seri ini membentuk lima pertanyaan yang saling menopang: apa yang nyata, bagaimana menata cara mengetahuinya, apa yang sedang kita pegang, bagaimana bernalar menuju mekanisme, dan apa yang kita lakukan. Intinya satu kalimat:

Realitas yang luas, pengetahuan yang fallibel, tindakan yang tetap harus diambil.

Kerangka teori tidak menggantikan kearifan para pengambil keputusan. Tugasnya menjernihkan landasan supaya kearifan itu bekerja di atas pijakan yang lebih jujur terhadap apa yang tidak kita ketahui.

© 2026 EPIC.OR.ID · Policy Analytics

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top