Bagaimana persepsi masuk dalam professional judgement?

Realisme Kritis · Epistemologi Praktik Audit

Dari Persepsi ke Judgement: Lima Pintu dan Mekanisme Generatifnya

Judgement tidak jatuh dari langit. Ia adalah peristiwa yang dihasilkan oleh sebuah mekanisme. Persepsi masuk ke dalamnya melalui pintu-pintu tertentu, dan setiap pintu bisa membuka atau menutup apa yang tampak.

Tesis. Persepsi adalah pintu masuk judgement, bukan keseluruhannya. Objek yang dipersepsi bersifat intransitif, sedangkan pintu, persepsi, dan judgement bersifat transitif. Karena itu judgement bisa keliru melihat, dan bisa dikoreksi.

Mekanisme generatif: dari objek ke judgement

Klik tiap langkah untuk mendalami.

1 Objek riil: intransitifStruktur dan daya yang menghasilkan risiko pada objek yang dinilai, misalnya sistem pengendalian, insentif, dan relasi kuasa. Ada terlepas dari penilai dan dari checklist. Inilah yang membuat judgement bisa benar atau salah.
2 Jejak: transitifPeristiwa jarang dipersepsi langsung. Yang sampai adalah jejaknya: dokumen, data, keterangan. Jejak bisa tidak lengkap, terdistorsi, atau sengaja dibentuk.
3 Lima pintu: penyaringPenyaring yang menentukan apa yang tampak: lensa teori, pengenalan pola, pelatihan, mediasi, nilai. Uraiannya ada di bagian lima pintu di bawah.
4 Persepsi: terlatihSetelah melewati pintu, jejak dilihat sebagai sesuatu: janggal, wajar, mirip kasus lama. Di tahap inilah pengalaman sarat teori bekerja dan bias persepsi muncul.
5 Retroduksi: dan pertimbanganDari gejala bergerak ke dugaan mekanisme penyebab (retroduksi), lalu menimbang konteks, nilai, dan tindakan (phronesis). Tahap ini tidak ditopang langsung oleh teks Bhaskar tentang persepsi.
6 Judgement: transitifKeluarannya adalah peristiwa pengetahuan yang bisa dibandingkan dengan objek pada langkah 1. Karena transitif, ia dapat dikritik dan direvisi.
↺ Koreksi: umpan balikTinjauan sejawat, supervisi, tindak lanjut, dan hasil nyata menggeser isi kelima pintu pada penilaian berikutnya. Inilah proses transitif sains dalam praktik.

Lima pintu persepsi menuju judgement

1

Pintu Lensa Teorimenentukan apa yang tampak ada

Standar, kerangka risiko, checklist, dan teori yang tak disadari mengatur apa yang menonjol. Pengalaman itu sarat teori: dua pengamat bisa melihat hal berbeda pada objek yang sama.

Tycho: matahari naik
Kepler: bumi turun

Di audit: auditor berlensa kepatuhan “melihat” penyimpangan prosedur, auditor berlensa kinerja “melihat” hasil yang tak tercapai. Jaraknya sama, kalimatnya berbeda.

2

Pintu Pengenalan Polamelihat sesuatu sebagai sesuatu

Isyarat dicocokkan dengan kasus dan templat yang tersimpan. Cepat dan efisien, tetapi pola yang tersedia bisa dipaksakan pada isyarat yang sebenarnya terpisah.

Pelaut kuno: “ular laut!”Pelaut modern: kawanan lumba-lumba

Di audit: tiga anomali kecil dirangkai menjadi satu “skema fraud” yang meyakinkan. Cerita yang koheren belum tentu benar.

3

Pintu Pelatihan dan Pengalamanmata yang dididik

Pendidikan sains melatih orang melihat apa yang sudah ada. Begitu pula mentoring dan jam terbang. Pintu ini yang menyetel pintu 1 dan 2, dan sumber “firasat” auditor senior.

Di audit: auditor senior langsung melihat red flag yang luput dari auditor baru pada dokumen yang sama.

4

Pintu Mediasijejak, instrumen, dan sampel

Yang sampai ke penilai adalah jejak peristiwa lewat dokumen, data, dan desain sampel. Apa yang berada di luar jangkauan instrumen masuk wilayah peristiwa yang tak terpersepsikan.

Di audit: prosedur yang tidak menyentuh suatu transaksi tidak membuktikan transaksi itu bersih.

5

Pintu Nilai dan Kepentinganmenentukan bobot dan makna

Afek, nilai, tekanan akuntabilitas, dan relasi dengan pihak yang dinilai memengaruhi apa yang dianggap penting. Pintu ini menjembatani persepsi dengan phronesis.

Di audit: temuan yang sama bisa dibobot berbeda tergantung konsekuensi bagi auditee dan bagi auditor.

Mekanisme bekerja sebagai kecenderungan, bukan hukum

Dalam realisme kritis, mekanisme menghasilkan kecenderungan yang bisa dihalangi atau diperkuat oleh kondisi lain. Karena itu penilai yang sama bisa menilai berbeda pada kasus serupa.

Mengganggu pintu

  • Tenggat sempit dan beban kerja
  • Anchoring pada temuan awal
  • Groupthink dalam tim
  • Kedekatan dengan auditee

Menjaga pintu tetap terbuka

  • Skeptisisme profesional
  • Struktur terdokumentasi, seperti kerangka ala SPJ
  • Tinjauan sejawat dan supervisi
  • Tindak lanjut yang membandingkan dugaan dengan hasil
Catatan kehati-hatian. Lima pintu dan enam langkah di atas adalah model konseptual penulis, bukan taksonomi baku Bhaskar dan belum diuji secara empiris. Bagian “Analisis Persepsi” hanya menopang langkah 1 sampai 4 secara ontologis. Langkah 5 membutuhkan konsep retroduksi dan phronesis dari bagian lain.
Rujukan: R. Bhaskar, A Realist Theory of Science (“The Analysis of Perception”, yang mengutip N.R. Hanson tentang pengalaman sarat teori). Gagasan melihat-sebagai dan phronesis berasal dari tradisi filsafat dan riset keahlian.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top