Apakah Judgement Itu Persepsi?

EPIC Policy Analytics · Epistemologi Praktik Audit

Apakah Judgement Itu Persepsi?

Auditor dan struktur yang melatih mata

Dua auditor membaca dokumen yang sama dan menulis kesimpulan berbeda. Siapa yang benar, dan apa sebenarnya yang mereka lihat?

01

Dua auditor, satu dokumen

Keduanya jujur, terlatih, dan berpengalaman. Yang satu mencatat kepatuhan prosedur, yang lain mencatat hasil yang tak tercapai. Dokumennya sama, sorotannya berbeda.

Stempel kurang!Tanda tangan mana?Target 80%,hasilnya menurun?

Auditor kepatuhan: kelengkapan prosedur  ·  Auditor kinerja: hasil yang dicapai

Pertanyaan “siapa yang benar” hanya masuk akal jika ada sesuatu di balik dokumen yang bisa dilihat dengan tepat atau keliru.

Di situlah filsafat persepsi masuk ke ruang audit. Tulisan ini mengajukan satu pertanyaan: apakah judgement itu persepsi?

02

Apa kata Bhaskar

Roy Bhaskar, filsuf pendiri realisme kritis, bertanya: apa yang harus benar tentang dunia agar persepsi dan sains masuk akal? Jawabannya, objek yang dipersepsi harus intransitif, yaitu ada dan berlangsung terlepas dari pengalaman kita atasnya. Sebaliknya, pengetahuan, teori, dan penilaian bersifat transitif: dibangun manusia dan dapat direvisi.

Buktinya ada pada sains sendiri. Kepler dan Tycho Brahe memandang langit yang sama, tetapi satu melihat matahari terbit dan yang lain melihat tepi bumi turun. Pelaut kuno menyebutnya ular laut, pelaut modern menyebutnya kawanan lumba-lumba. Pengalaman bisa berubah dan dikoreksi hanya jika ada sesuatu yang sama yang sedang dilihat.

Tycho: matahari naik

Kepler: bumi turun

Belum kita ketahui tidak sama dengan tidak ada.

Bagi auditor kalimat itu akrab: tidak ditemukan bukan berarti tidak terjadi.

03

Judgement itu tangga, bukan satu hal

Kata “judgement” dipakai untuk tiga hal yang berbeda. Menjawab apakah ia persepsi berarti memisahkannya.

1 Mengenalipersepsi terlatih2 Menyimpulkaninferensi3 Memutuskannilai dan tindakan
1

Mengenali “Ini janggal.”

Hampir sama dengan persepsi, tetapi sudah berkonsep: melihat sebagai sesuatu.

2

Menyimpulkan “Ini mengindikasikan risiko tinggi.”

Sudah menjadi klaim yang bisa dibenarkan, diperdebatkan, benar atau salah.

3

Memutuskan “Ini material dan harus dilaporkan.”

Ada unsur nilai yang tak punya padanan dalam tindakan melihat.

Judgement bukan persepsi, tetapi tidak pernah tanpa persepsi.

Persepsi adalah “kata kerja keberhasilan”: jika saya melihat X, X memang ada, dan jika tidak, saya hanya mengira melihat. Judgement tidak begitu: ia bisa keliru dan tetap judgement. Ujinya sederhana. Jika penilaian lahir langsung tanpa rantai alasan, ia dekat dengan persepsi. Jika perlu “karena A dan B, maka C”, ia sudah inferensial.

Transitif bukan berarti sembarang

Persepsi dan judgement sama-sama berada di sisi transitif. Ada empat hal yang perlu dijaga agar kata itu tidak disalahpahami.

  • Yang transitif adalah tindakan dan produknya, bukan objeknya. Persepsi dan judgement dibentuk teori, pelatihan, dan konteks, bisa keliru, dan bisa direvisi. Yang intransitif tetap objek yang dipersepsi atau dinilai.
  • Transitif tidak berarti subjektif atau tidak nyata. Opini audit adalah peristiwa nyata dengan akibat nyata, misalnya mengubah anggaran. Justru karena dibatasi oleh objek intransitifnya, ia bisa dikoreksi.
  • Statusnya relatif terhadap penyelidikan. Saat auditor menilai sebuah unit, judgement-nya transitif. Saat peneliti mempelajari bagaimana auditor menilai, judgement itu menjadi objek yang ada terlepas dari peneliti.
  • Keduanya tidak sama dekat dengan objeknya. Persepsi masih terhubung langsung dengan yang hadir. Judgement menambahkan inferensi dan nilai, sehingga jaraknya dari objek lebih jauh dan ruang kekeliruannya lebih besar.

Poin ketiga dan keempat adalah pembacaan penulis atas pembedaan transitif dan intransitif.

04

Rumah dengan lima pintu

Persepsi masuk ke judgement melalui pintu-pintu yang memilih apa yang tampak. Klik sebuah pintu untuk membukanya. Lima pintu ini adalah model konseptual penulis, bukan taksonomi baku.

Objek riilintransitif
LIMA PINTU PERSEPSI
JJudgementtransitif

Klik pintu untuk melihat apa yang ada di baliknya

Pintu 1: Lensa teori

Standar, kerangka risiko, dan teori yang tidak disadari mengatur apa yang menonjol. Dua pengamat bisa melihat hal berbeda pada objek yang sama.

Stempel kurang!Tanda tangan mana?Target 80%,hasilnya menurun?

Auditor kepatuhan: kelengkapan prosedur  ·  Auditor kinerja: hasil yang dicapai

Di audit: Lensa kepatuhan menyorot penyimpangan prosedur, lensa kinerja menyorot hasil yang tak tercapai.

Pintu 2: Pengenalan pola

Isyarat dicocokkan dengan kasus yang tersimpan: cepat dan sering akurat. Bahayanya, pola yang tersedia dipaksakan pada isyarat yang sebenarnya terpisah.

Tanpa struktur: satu pola besar!Dengan struktur: tiga indikator terpisah

Di audit: Tiga anomali kecil dirangkai menjadi satu skema kecurangan yang meyakinkan. Struktur memaksa tiap indikator diperiksa sendiri dulu.

Pintu 3: Pelatihan dan pengalaman

Mata dididik oleh mentor, kasus, dan jam terbang. Pendidikan sains mengandaikan hal serupa: orang belajar melihat apa yang sudah ada.

Auditor baruAuditor senior

Di audit: Auditor senior langsung “melihat” dua kejanggalan pada deretan yang sama dengan yang dibaca auditor baru.

Pintu 4: Mediasi

Yang sampai kepada penilai adalah jejak peristiwa lewat dokumen, data, dan sampel. Apa yang di luar jangkauan prosedur masuk wilayah peristiwa yang tak terpersepsikan.

Di audit: Transaksi yang tak tersentuh sampel tidak terbukti bersih.

Pintu 5: Nilai dan kepentingan

Afek, nilai, tekanan akuntabilitas, dan kedekatan dengan pihak yang dinilai ikut menentukan apa yang dianggap penting. Pintu ini menjembatani persepsi dengan phronesis, kebijaksanaan praktis.

TemuanKonsekuensi

Di audit: Temuan yang sama dibobot berbeda menurut konsekuensinya.

Pintu-pintu itu bagian dari mekanisme yang menghasilkan judgement: objek riil, jejak, pintu, persepsi terlatih, inferensi, lalu keputusan. Mekanisme ini menghasilkan kecenderungan, bukan hukum.

Yang mengganggu pintu

  • Tenggat sempit dan beban kerja
  • Anchoring, yaitu terpaku pada informasi awal
  • Groupthink dalam tim

Yang menjaga pintu terbuka

  • Skeptisisme profesional
  • Supervisi dan tinjauan sejawat
  • Mendokumentasikan alasan

05

Struktur yang melatih mata

Structured Professional Judgment (SPJ), atau penilaian profesional terstruktur, berkembang dalam penilaian risiko forensik-klinis, misalnya risiko kekerasan. Ia dirancang sebagai jalan tengah antara intuisi pakar dan rumus statistik. Faktor risiko dari riset dipakai sebagai pedoman, lalu penilai merumuskan skenario risiko untuk kasus itu.

Tak terstrukturBergantung intuisi pakar. Sulit diaudit, bias mudah masuk.
SPJPedoman faktor risiko dan penilaian per kasus. Hasilnya penilaian, bukan skor tunggal.
AktuarialSkor dari korelasi. Konsisten, tetapi konteks kasus tertinggal.

SPJ bekerja tepat di sambungan antara persepsi dan inferensi.

1

Mengenali

Mengarahkan dan melatih apa yang dilihat. Tiap faktor dinilai satu per satu, sehingga tiga indikator tidak langsung dirangkai menjadi satu “ular” seperti pada pintu 2.

2

Menyimpulkan

Memaksa alasan eksplisit lewat perumusan kasus dan skenario.

3

Memutuskan

Menjaga pertimbangan profesional, tetapi dalam kerangka yang terdokumentasi.

06

Dua jebakan

Pertama, struktur juga pintu yang bisa menutup. Checklist adalah lensa teori baru: ia mempertajam penglihatan pada faktor yang terdaftar dan mempertumpul pada yang tidak. Risiko yang tidak punya kotak adalah peristiwa tak terpersepsikan versi SPJ.

Faktor AFaktor BFaktor CFaktor D?tak ada kotaknyafaktor dalam checklist

Kedua, reliabilitas bukan validitas. Struktur membuat dua penilai lebih sepakat, tetapi sepakat belum berarti benar. Keduanya bisa sama-sama meleset dari objek riil. Yang menentukan kebenaran adalah objek intransitif, bukan kesepakatan.

Sepakat, tetapi sama-sama melesetSepakat dan tepat

Oranye: penilai A. Ungu: penilai B. Pusat target: objek riil.

07

Bagi auditor pemerintah

Beberapa usulan yang mengalir dari argumen di atas:

  1. Tuliskan alasan di balik firasat, supaya bisa dikritik dan dikoreksi.
  2. Sebut lensa yang dipakai, kepatuhan, kinerja, atau lainnya, agar perbedaan antarpenilai bisa dilacak.
  3. Sisakan ruang bagi faktor di luar daftar. Peta risiko berbasis skor bukan titik akhir.
  4. Gunakan tindak lanjut untuk membandingkan dugaan dengan hasil nyata, sebagai mekanisme koreksi.

08

Penutup: persepsi hanya pintu masuk

Persepsi memberi judgement titik berangkat, tetapi tidak cukup. Dari gejala ke dugaan mekanisme penyebab dibutuhkan retroduksi. Dari dugaan ke keputusan yang bijak dibutuhkan phronesis. Keduanya adalah kelanjutan alami dari tulisan ini.

Catatan kehati-hatian. Bhaskar tidak menulis tentang audit maupun SPJ, dan SPJ berasal dari konteks forensik-klinis. Jembatan dalam tulisan ini adalah pembacaan penulis dan perlu diuji. Lima pintu bukan taksonomi baku.

Rujukan: R. Bhaskar, A Realist Theory of Science (bagian “The Analysis of Perception”, yang merujuk N.R. Hanson tentang pengalaman sarat teori). Rujukan tentang keahlian dan SPJ dapat ditambahkan penulis.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top