Diskursus mengenai kualitas pendidikan sering kali terjebak pada asumsi bahwa penambahan fasilitas fisik—seperti komputer atau perpustakaan—akan memberikan dampak yang seragam bagi seluruh kemampuan kognitif siswa. Namun, analisis mendalam menggunakan model Fixed Effects terhadap data panel SMP Negeri periode 2021–2025 mengungkapkan sebuah fenomena yang jauh lebih kompleks: fasilitas sekolah ternyata menciptakan diferensiasi kapabilitas (cognitive gap) yang tajam antara kemampuan Literasi dan Numerasi.

Gambar 1: Gap literasi numerasi
Faktor Penentu Gap Kognitif
Kajian ini menganalisis faktor-faktor yang mendorong selisih skor literasi dan numerasi atau GAP_LIT_NUM sebagai variabel dependen. Model estimasi memetakan bagaimana variabel penunjang sekolah mendorong keunggulan pada salah satu bidang kognitif tertentu.
Tabel 1. Faktor Penentu Gap Literasi-Numerasi (Fixed Effects)
| VARIABLES | GAP_LIT_NUM |
|---|---|
| Rata-rata jumlah_perpus tingkat sekolah | 0.0429 (0.0687) |
| Rata-rata jumlah_komp_milik tingkat sekolah | 0.0338*** (0.00788) |
| Rata-rata proporsi_pendidik_sertifikasi | 0.0209*** (0.00209) |
| Rata-rata SES_sekolah | 0.0111*** (0.00421) |
| Tahun Data Rapor Pendidikan = 2022 | 3.451*** (0.129) |
| Tahun Data Rapor Pendidikan = 2023 | 1.162*** (0.0758) |
| Tahun Data Rapor Pendidikan = 2024 | 2.041*** (0.0704) |
| Tahun Data Rapor Pendidikan = 2025 | 3.319*** (0.115) |
| Constant | 2.726*** (0.303) |
| Observations | 36,767 |
| Number of id_sekolah_num | 7,556 |
| R-squared | 0.093 |
Robust standard errors in parentheses *** p<0.01, ** p<0.05, * p<0.1
Peran Infrastruktur dan Kapabilitas
Beberapa temuan krusial ditunjukkan oleh Tabel 1, yang menunjukkan ketidaktepatan asumsi tata kelola sekolah:
1. Jumlah Komputer (+0.0338***)
Secara statistik, jumlah kepemilikan komputer memberikan koefisien positif yang signifikan terhadap gap kognitif. Artinya, semakin banyak fasilitas komputer di sekolah, skor literasi siswa cenderung melesat jauh meninggalkan kemampuan numerasinya. Infrastruktur digital saat ini tampaknya lebih banyak dioptimalkan untuk aktivitas berbasis teks, asesmen digital literasi, atau pencarian informasi verbal, alih-alih mendongkrak penalaran logika matematika.
2. Mitos Fisik Perpustakaan
Menariknya, variabel jumlah perpustakaan menunjukkan rentang konfidensi yang lebar dan tidak signifikan secara statistik. Hal ini mempertegas bahwa kuantitas ruang fisik perpustakaan tidak serta-merta membuat sekolah lebih unggul di bidang literasi. Gedung perpustakaan yang pasif gagal menjadi mesin penggerak kapabilitas membaca siswa tanpa adanya intervensi pedagogis yang hidup di dalamnya.
3. Peran Sertifikasi Guru (+0.0209***) dan SES Sekolah (+0.0111***)
Proporsi guru bersertifikasi dan status sosial ekonomi (SES) sekolah sama-sama memberikan dorongan signifikan yang memperlebar keunggulan di sisi literasi. Hal ini mengindikasikan bahwa intervensi pengajaran formal saat ini lebih efektif terserap dalam membangun kemampuan bahasa dan pemahaman teks ketimbang memecahkan problem logika numerik yang kompleks.
Refleksi Kebijakan
Temuan empiris ini menyampaikan pesan penting bagi perumusan kebijakan pendidikan: intervensi sarana dan prasarana tidak boleh dilakukan secara buta (blind investment). Pengadaan komputer terbukti mendistorsi keseimbangan kemampuan kognitif siswa karena abadi dalam koridor literasi semata tanpa menyentuh dimensi numerasi.
Ke depan, orientasi kebijakan sekolah negeri harus bergeser dari sekadar “penambahan aset fisik” menuju pemerimbangan pedagogis. Infrastruktur digital dan literasi harus benar-benar dirancang untuk mengkatrol kemampuan penalaran logika matematika dan bahasa secara bersamaan.