Selama ini, kita sering dengan narasi umum bahwa siswa perempuan memiliki keunggulan alami dalam bidang bahasa dan literasi. Namun, ketika kita membedah data panel longitudinal SMP Negeri sepanjang periode 2021–2025, muncul sebuah anomali yang berlawanan dengan stereotip tersebut. Data empiris justru menyingkap sebuah fenomena “Paradoks Literasi” Sekolah dengan proporsi siswa perempuan yang lebih tinggi cenderung menunjukkan capaian literasi yang lebih rendah secara sistemik.

Estimasi model Fixed Effects
Jika kita meninjau estimasi model Fixed Effects—sebuah teknik statistika yang mampu mengontrol karakteristik spesifik sekolah yang tidak berubah dari waktu ke waktu. Tujuan model ini agar hasil analisis lebih akurat. Hasil olah data pendidikan nasional menunjukkan perbedaan dampaknya terhadap siswa perempuan sangat mencolok. Sebagai rujukan, lihat artikel Analisis Ketimpangan Kurikulum Merdeka Jenjang SMP.
Variabel komposisi siswa perempuan ($\mathit{prop\_female}$) menunjukkan koefisien negatif yang sangat signifikan secara statistik pada bidang Literasi dengan nilai $\beta = -2,130$ ($p < 0,001$; $^{***}$). Sebaliknya, pada bidang Numerasi, variabel yang sama menunjukkan koefisien yang mendekati nol ($\beta = -0,073$) dan sama sekali tidak signifikan secara statistik ($p = 0,837$). Artinya, secara statistik, komposisi gender di SMP tidak berpengaruh pada nalar matematika, namun menjadi “faktor penentu” yang merugikan bagi performa literasi sekolah.
Mengapa Lingkungan Kelas Menjadi ‘Korban’?
Paradoks ini kemungkinan besar bukan disebabkan oleh kapasitas kognitif individu siswa perempuan, melainkan oleh ekosistem pembelajaran yang tidak ramah literasi. Literasi adalah kompetensi yang sangat sensitif terhadap kualitas interaksi pedagogis. Di sekolah yang didominasi siswa perempuan, jika guru terbebani oleh manajemen kelas atau tuntutan administratif yang tinggi, maka “ruang” untuk diskusi teks yang mendalam, analisis kritis, dan pendampingan membaca secara personal akan menjadi yang pertama kali dikorbankan.
Berbeda dengan numerasi di tingkat SMP yang sering diajarkan melalui prosedur atau rumus yang kaku—yang cenderung lebih “tahan banting” terhadap gangguan lingkungan kelas—literasi membutuhkan keterlibatan yang lebih luwes dan engagement guru yang intens. Ketika metode pengajaran literasi di sekolah kita terjebak dalam rutinitas administratif belaka, siswa perempuan yang secara naluriah mungkin lebih kritis dalam memilih bahan bacaan justru merasa tidak terwadahi, sehingga performa literasi rata-rata sekolah tersebut tertekan oleh sistem yang tidak mendukung potensi mereka.
Alarm Bagi Kebijakan Pendidikan
Temuan ini adalah “alarm” bagi para pemangku kebijakan. Bahwa implementasi kurikulum merdeka tidak berjalan secara netral dan seragam, bahkan di tingkat jenjang yang sama. Kita tidak bisa lagi memukul rata bahwa literasi adalah “wilayah aman” bagi siswa perempuan. Faktanya, justru di bidang inilah terdapat ketimpangan yang perlu segera diperbaiki.
Kita perlu segera melakukan evaluasi mendalam terhadap metode pengajaran literasi di SMP. Jangan biarkan potensi siswa perempuan terkubur oleh sistem yang lebih mementingkan beban administratif guru daripada kualitas interaksi literasi di ruang kelas. Bagi Anda yang ingin menelaah bukti empiris ini lebih jauh, silakan merujuk pada Analisis Ketimpangan Kurikulum Merdeka Jenjang SMP, di mana model regresi ini memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana bias sistemik dapat memengaruhi capaian pendidikan siswa kita.