Laporan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang baru saja dirilis oleh OECD menyita perhatian publik melalui pembaruan kerangka kerja sainsnya. Secara khusus, OECD menyerap rujukan ilmiah karya White et al. (2023) dalam OECD Education Working Paper tentang Agency in the Anthropocene untuk merumuskan ulang kriteria kompetensi siswa global. Istilah Antroposen belum terserap secara resmi di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)—istilah terdekat yang baku adalah antroposentrisme. Namun, dalam kajian geologi dan sains global, Antroposen merujuk pada era baru di mana aktivitas dan intervensi manusia telah menjadi kekuatan utama yang mengubah ekosistem, iklim, dan geologi bumi secara drastis.

Pertanyaan yang muncul adalah, “mengapa OECD—yang secara historis berfokus pada indikator ekonomi dan daya saing pasar kerja—kini mengadopsi kerangka ini untuk mengajak siswa dunia peduli pada alam dan krisis ekologis?
Jawabannya terletak pada pergeseran realitas global. OECD menyadari bahwa risiko krisis lingkungan dan perubahan iklim bukan lagi sekadar isu etika, melainkan ancaman eksistensial terhadap stabilitas ekonomi, ketahanan pangan, dan keberlanjutan hidup masyarakat modern. Mengajarkan sains kepada generasi muda di era Antroposen tidak lagi cukup hanya dengan menuntut mereka menghafal teori biologi atau rumus fisika secara pasif. OECD mendorong kepedulian alam karena generasi yang bersekolah hari ini adalah generasi yang akan menanggung dan mengelola dampak langsung dari krisis ekologis buatan manusia di masa depan.
Tanpa daya agen (agency)—yakni kesadaran, rasa tanggung jawab, dan kapasitas bertindak berbasis bukti ilmiah—pengetahuan sains siswa akan mandek di atas kertas.
Pengintegrasian kerangka Antroposen dalam PISA 2025 diwujudkan melalui modul khusus Ilmu Lingkungan serta kompetensi baru Research, Evaluate, and Use Scientific Information. OECD menguji sejauh mana siswa mampu menganalisis sistem sosio-ekologis yang kompleks, membedakan konsensus ilmiah dari hoaks atau misinformasi lingkungan di media sosial, serta mengambil keputusan berbasis risiko (risk-informed decision making).
Namun, ketika kerangka Antroposen ini disandingkan dengan realitas pendidikan di Indonesia, muncul tantangan struktural yang nyata. Berdasarkan analisis tes nasional Rapor Pendidikan di epic.or.id, kelemahan mendasar siswa Indonesia justru berada pada sub-domain Data dan Ketidakpastian. Dalam matematika dan sains, siswa kita umumnya mahir dalam prosedur komputasi statis dan hafalan teori mekanis. Namun, begitu dihadapkan pada soal-soal penalaran inferensial—seperti memodelkan data iklim, memprediksi variasi acak, dan bernavigasi di tengah ketidakpastian dunia nyata—kemampuan siswa langsung runtuh.
Anomali ini makin dipertegas oleh fakta bahwa kompetensi penalaran sains dan matematika bersifat school-driven (sangat bergantung pada mutu pembelajaran formal di kelas), berbeda dengan literasi membaca yang cenderung society-driven. Ketika pengajaran di ruang kelas kita masih didominasi oleh transfer hafalan pasif dan pengadaan perangkat digital yang sekadar menjadi barang inventaris administratif, sekolah gagal membangun daya agen siswa. Siswa tidak memiliki jaring pengaman sosial di luar sekolah untuk memahami kerumitan krisis lingkungan secara logis dan ilmiah.
Pesan OECD melalui kerangka PISA 2025 sangat eksplisit. Kepedulian terhadap alam bukan sekadar aksi menanam pohon atau jargon kampanye, melainkan bentuk kecakapan bernalar tingkat tinggi. Siswa yang peduli pada alam di era Antroposen adalah siswa yang mampu membaca data perubahan lingkungan secara kritis, mengevaluasi validitas informasi ilmiah, serta memitigasi risiko via tindakan terukur.
Guna merespons hasil PISA 2025, pembuat kebijakan pendidikan di Indonesia harus melampaui paradigma pengadaan sarana fisik atau pergantian nama kurikulum semata. Pemulihan kognitif nasional harus difokuskan pada perbaikan kualitas interaksi pembelajaran di dalam kelas. Kebijakan perlu membiasakan siswa bernalar atas data dan ketidakpastian. Kebijakan juga perlu menghentikan formalitas gawai pasif, serta menumbuhkan daya agen siswa agar mereka siap menjadi warga dunia yang tangguh di era Antroposen.