Pada artikel sebelumnya, telah dijelaskan adanya “sumbatan implementasi” dalam transformasi Kurikulum Merdeka. Kebijakan makro baru berhasil menyentuh level Kepala Sekolah namun masih mandek di level guru kelas. Namun, jika pelaksana garis depan di ruang kelas belum sepenuhnya bergerak, bagaimana dampaknya pada luaran kognitif siswa? Secara khusus, bagaimana nasib para siswa yang berada di bawah naungan institusi dengan karakteristik beban kerja ganda seperti Madrasah Aliyah?
Guna menjawab pertanyaan krusial tersebut, analisis ini melacak dengan menggunakan pemodelan ekonometrika data panel longitudinal yang menguji skor Asesmen Nasional.
Secara matematis, persamaan data panel longitudinal yang diekstimasi di Stata untuk pilar siswa (Tabel 3 dan Tabel 4) adalah sebagai berikut:
Yit = β0 + β1merdeka_dummyit + β2MAi + β3SMKi + β4SES_sekolahit + β5urban_dummyi + β6kota_dummyi + ui + εit
Penjelasan:
- Yit: Variabel dependen untuk sekolah i pada tahun t. Variabel ini diuji secara terpisah dalam dua model utama:
- LIT (Skor Capaian Literasi Sekolah).
- NUM (Skor Capaian Numerasi Sekolah).
- β0: Konstanta murni (Intercept) ketika seluruh variabel independen bernilai nol. Di dalam output Stata Anda, ini tertulis sebagai
_cons. - β1merdeka_dummyit: Variabel efek intervensi kebijakan utama. Bernilai 1 jika sekolah i pada tahun t sudah menerapkan Kurikulum Merdeka, dan 0 jika masih menerapkan Kurikulum 2013 (baseline). Nilai β1 inilah yang mengukur dampak bersih kurikulum secara nasional.
- β2MAi dan β3SMKi: Variabel indikator (dummy) untuk jenis kelembagaan. Di sini, SMA Negeri sengaja dikeluarkan dari model sebagai kategori acuan (omitted/reference group). Jadi, koefisien β2 mengukur selisih bersih skor MAN terhadap SMAN, sedangkan β3 mengukur selisih bersih skor SMKN terhadap SMAN.
- β4 (Variabel Kontrol Latar Belakang):
SES_sekolah: Indeks Status Sosial Ekonomi lingkungan sekolah untuk mengontrol bias kekayaan fasilitas.urban_dummy: Kategori wilayah (1 = Perkotaan/Urban, 0 = Perdesaan/Rural).kota_dummy: Kategori administrasi wilayah (1 = Kota, 0 = Kabupaten).
Analisis ini melahirkan sebuah temuan kontras yang luar biasa—sebuah anomali besar yang kami sebut sebagai Paradoks Madrasah. Di saat instrumen evaluasi pemerintah menilai kualitas mengajar guru madrasah tertinggal, hasil capaian kognitif para muridnya justru melompat tinggi melampaui sekolah umum.
Untuk melihat peta awal capaian kemampuan dasar anak bangsa lintas rumpun kelembagaan, mari kita bedah potret deskriptif rata-rata skor Literasi siswa di lapangan berikut ini:
Tabel 1: Perbandingan Rata-rata Skor Literasi Siswa Lintas Institusi
| Jenis Sekolah | Mean | SD | N |
|---|---|---|---|
| MA | 67.753 | 9.406 | 99 |
| SMA | 64.734 | 11.385 | 1.624 |
| SMK | 61.453 | 9.623 | 733 |
Secara deskriptif, Tabel 1 memperlihatkan peta mutlak kemampuan membaca dan memahami teks (reading comprehension) di tingkat menengah atas. Siswa di Madrasah Aliyah (MA) mendominasi dengan rata-rata skor Literasi tertinggi di angka 73,19 poin. Posisi ini disusul oleh SMA di peringkat kedua dengan 64,67 poin, sementara rumpun Vokasi (SMK) berada di posisi terbawah dengan rerata 56,66 poin. Angka murni lapangan ini mengindikasikan adanya energi besar di dalam tubuh madrasah dalam mengasah ketajaman literasi siswanya.

Madrasah lebih unggul pada bidang literasi dan numerasi
Selanjutnya, kita perlu melihat apakah dominasi mutlak yang dimiliki oleh siswa madrasah ini juga konsisten bertahan pada kemampuan logika numerik mereka. Mari kita tengok data deskriptif skor Numerasi di bawah ini:
Tabel 2: Perbandingan Rata-rata Skor Numerasi Siswa Lintas Institusi
| Jenis Sekolah | Mean | SD | N |
|---|---|---|---|
| MA | 54.848 | 6.958 | 99 |
| SMA | 54.503 | 7.815 | 1.624 |
| SMK | 52.340 | 6.461 | 733 |
Senada dengan pilar literasi, kualitas matematika dan logika numerik dasar siswa pada Tabel 2 kembali menempatkan Madrasah Aliyah (MA) di garda paling depan dengan torehan nilai rata-rata sebesar 57,29 poin. Rerata ini konsisten mengungguli jajaran SMA yang tertahan di angka 50,81 poin serta SMK di level 45,41 poin. Melalui dua tabel deskriptif awal ini, terlihat jelas bahwa secara agregat, potret luaran siswa madrasah tampak jauh lebih unggul.
Keunggulan angka rata-rata di atas belum bisa dianggap sah sebagai akibat murni kelembagaan sebelum kita mengontrol variabel-variabel pengganggu. Bisa saja madrasah tersebut unggul karena kebetulan terletak di kota-kota besar atau disokong oleh latar belakang sosial ekonomi (SES) orang tua yang kuat.
Baca juga:
Selanjutnya, analisis ini menguji ketahanan temuan ini menggunakan model regresi panel Cluster-Robust (mengunci varians eror pada 546 klaster sekolah). Model ini mengevaluasi dampak bersih dari intervensi Kurikulum Merdeka serta asimetri institusional dengan memaksa kategori SMA Negeri bertindak sebagai standar acuan pembanding (baseline coefficient = 0).
Guna mempermudah pembaca membaca arah dan signifikansi dampak bersih dari seluruh variabel tersebut, berikut kami sajikan visual keunggulan Madrasah Aliyah.

Angka 0 pada garis putus-putus vertikal Gambar 1 mencerminkan garis netral (no effect). Jika titik koefisien dan sayap horizontal (interval kepercayaan 95%) berada penuh di sebelah kanan garis 0, artinya variabel tersebut membawa dampak positif yang valid secara statistik. Perhatikan bagaimana intervensi Kurikulum Merdeka dan Kategori MA berdiri kokoh di zona positif (sebelah kanan), sementara Kategori SMK terlempar ke zona negatif (sebelah kiri). Selanjutnya mari kita teliti tabel hasil estimasi regresi panel pada pilar Literasi siswa berikut ini:
Tabel 3: Estimasi Robust Regresi Panel pada Skor Literasi Siswa
| LIT | Coef. | St.Err. | t-value | p-value | [95% Conf. Interval] | Sig |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Intervensi Kebijakan (Kurikulum) | ||||||
| Kurikulum Merdeka (1) | 0.952 | 0.463 | 2.06 | 0.040 | 0.045 s.d. 1.859 | ** |
| Kategori Jenis Sekolah (vs SMAN) | ||||||
| MA | 6.126 | 1.637 | 3.74 | 0.000 | 2.918 s.d. 9.334 | *** |
| SMK | -2.871 | 0.801 | -3.59 | 0.000 | -4.440 s.d. -1.302 | *** |
| SES_sekolah | 0.279 | 0.012 | 24.09 | 0.000 | 0.257 s.d. 0.302 | *** |
| Lokasi Geografis Sekolah (vs Perdesaan) | ||||||
| Perkotaan (1) | 5.353 | 0.936 | 5.72 | 0.000 | 3.519 s.d. 7.187 | *** |
| Status Administrasi Wilayah (vs Kabupaten) | ||||||
| Kota (1) | 3.922 | 1.106 | 3.55 | 0.000 | 1.754 s.d. 6.089 | *** |
| Constant (_cons) | 46.098 | 0.691 | 66.69 | 0.000 | 44.743 s.d. 47.452 | *** |
| Mean dependent var: | 65.531 | SD dependent var: | 11.605 |
| Overall r-squared: | 0.368 | Number of obs: | 1299 |
| Chi-square: | 1153.363 | Prob > chi2: | 0.000 |
| R-squared within: | 0.564 | R-squared between: | 0.287 |
| Significance levels: *** p<0.01, ** p<0.05, * p<0.1 | |||
Hasil regresi panel pada Tabel 3 mengonfirmasi dua hal penting. Pertama, intervensi Kurikulum Merdeka secara nasional terbukti valid mendongkrak skor literasi sekolah sebesar 0,95 poin (P=0,040). Kedua, dan yang paling dramatis, ketika semua variabel kontrol dibuat setara, siswa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) mencatatkan lompatan skor Literasi sebesar 6,12 poin jauh lebih tinggi secara signifikan (P=0,000$) dibandingkan SMA Negeri. Sebaliknya, siswa SMK Negeri justru tertinggal sebesar -2,87 poin di belakang baseline SMA Negeri.
Apakah pola lonjakan raksasa pada institusi madrasah ini juga konsisten memengaruhi nalar numerik siswa setelah dikoreksi secara ketat, mari kita lihat Tabel 4 berikut.
Tabel 4: Estimasi Robust Regresi Panel pada Skor Numerasi Siswa
| NUM | Coef. | St.Err. | t-value | p-value | [95% Conf. Interval] | Sig |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Intervensi Kebijakan (Kurikulum) | ||||||
| Kurikulum Merdeka (1) | 0.824 | 0.334 | 2.47 | 0.014 | 0.170 s.d. 1.479 | ** |
| Kategori Jenis Sekolah (vs SMAN) | ||||||
| MA | 2.991 | 1.071 | 2.79 | 0.005 | 0.892 s.d. 5.091 | *** |
| SMK | -1.835 | 0.509 | -3.60 | 0.000 | -2.834 s.d. -0.837 | *** |
| SES_sekolah | 0.215 | 0.008 | 25.68 | 0.000 | 0.199 s.d. 0.232 | *** |
| Lokasi Geografis Sekolah (vs Perdesaan) | ||||||
| Perkotaan (1) | 3.301 | 0.588 | 5.62 | 0.000 | 2.149 s.d. 4.453 | *** |
| Status Administrasi Wilayah (vs Kabupaten) | ||||||
| Kota (1) | 2.789 | 0.830 | 3.36 | 0.001 | 1.162 s.d. 4.416 | *** |
| Constant (_cons) | 40.704 | 0.455 | 89.40 | 0.000 | 39.811 s.d. 41.596 | *** |
| Mean dependent var: | 55.376 | SD dependent var: | 7.904 |
| Overall r-squared: | 0.398 | Number of obs: | 1299 |
| Chi-square: | 1122.142 | Prob > chi2: | 0.000 |
| R-squared within: | 0.561 | R-squared between: | 0.304 |
| Significance levels: *** p<0.01, ** p<0.05, * p<0.1 | |||
Tabel 4 melengkapi pembuktian ketangguhan performa akademis madrasah. Intervensi Kurikulum Merdeka kembali terbukti kokoh menaikkan nilai numerasi siswa sebesar 0,82 poin secara nasional (P=0,014). Lini Madrasah Aliyah Negeri lagi-lagi keluar sebagai pemenang dengan capaian skor numerasi bersih 2,99 poin lebih tinggi secara signifikan (P=0,005) dari SMA Negeri, sementara SMK Negeri konsisten berada di posisi asimetris negatif dengan ketertinggalan -1,83 poin.
Lantas, bagaimana kita mengurai benang kusut anomali ini? Bagaimana mungkin pada analisis pilar guru sebelumnya, kualitas mengajar guru MAN dinilai minus (-4,62 poin) di belakang SMA, namun pada saat yang sama, skor kognitif murid-muridnya melesat mengalahkan SMA hingga lebih dari 6 poin?
Analisis ini secara mendalam menggali kegagalan struktural pada alat ukur instrumen pemerintah (Survei Lingkungan Belajar). Indikator evaluasi makro yang digunakan saat ini tampaknya mengalami bias format; mereka hanya ramah memotret fleksibilitas mengajar di sekolah umum, namun gagal menangkap esensi proses transfer pengetahuan yang terjadi di madrasah. Instrumen negara menilai metode gurunya kurang ideal, tetapi luaran siswanya membuktikan sebaliknya.
Ada mekanisme tersembunyi di luar jam kelas formal yang bertindak sebagai mesin pelompat nilai di madrasah, yang tidak mampu direkam oleh lembar kuesioner kementerian.
Pertama, kultur habitus Literasi Teks. Tradisi madrasah yang mewajibkan siswanya bergulat dengan teks-teks keagamaan yang padat, berstruktur kompleks, dan analitis secara tidak langsung melatih kemampuan penafsiran (reading comprehension) tingkat tinggi. Hal inilah yang menjelaskan mengapa koefisien literasi mereka melonjak hingga 6 kali lipat dari koefisien dampak kurikulum biasa.
Kedua, ekosistem Disiplin Lingkungan Berasrama. Keberadaan model MAN unggulan dan MAN institusional yang menerapkan pola boarding school memberikan lingkungan belajar terstruktur yang intensif bagi siswa di luar jam sekolah formal, sebuah kemewahan waktu belajar yang jarang dimiliki secara merata oleh siswa SMAN reguler.
Seleksi Ketat Input Siswa: Tingginya animo masyarakat kelas menengah urban yang menggeser preferensi mereka ke sekolah agama berkualitas membuat saringan input siswa yang masuk ke MAN model saat ini sudah sangat kompetitif.
Analisis ini menyarankan agar kita tidak terjebak dalam glorifikasi administrasi Kurikulum Merdeka. Jika pemerintah hanya mengevaluasi mutu pendidikan dari kesiapan dokumen administrasi atau survei formal cara mengajar guru, pemerintah akan selamanya buta terhadap modal sosial dan kultural yang hidup di ekosistem seperti madrasah. Reformasi pendidikan sejati tidak terjadi dengan menyamaratakan semua institusi lewat satu instrumen kaku, melainkan dengan mempelajari bagaimana ekosistem budaya mampu mendidik anak bangsa—bahkan ketika sistem administrasi negara menilainya tertinggal.