Laporan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang baru saja dirilis oleh OECD kembali menyita perhatian sebagai tolok ukur daya saing mutu pendidikan nasional. Jika kita cermati tren nilai Matematika dalam dua siklus laporan PISA terbaru, yakni tahun 2022 dan 2025, potret yang muncul memperlihatkan anomali yang makin tajam. Pada PISA 2022, skor rata-rata matematika siswa Indonesia berada pada angka 366, sementara itu, pada laporan PISA 2025, angka tersebut justru kembali meluncur turun ke posisi 364. Penurunan khusus pada kompetensi matematika ini menegaskan adanya krisis penalaran numerasi mendalam yang belum terurai di dalam sistem pendidikan kita.
| Siklus PISA | Skor Rata-Rata Matematika | Tren Capaian |
|---|---|---|
| PISA 2022 | 366 | Baseline |
| PISA 2025 | 364 | Penurunan (\(\Delta = -2\)) |

Kita mungkin masih berargumentasi bahwa kondisi tersebut karena masa transisi Pasca-Pandemi. Argumen ini menjadi lemah jika disandingkan dengan masifnya pengadaan sarana fisik dan penetrasi teknologi digital di sekolah-sekolah. Laporan OECD memaparkan bahwa penurunan performa matematika berkaitan erat dengan penetrasi teknologi yang tidak terarah. Ketersediaan gawai dan komputer di sekolah tanpa kesiapan pedagogi digital guru berujung menjadi pengalih perhatian yang mereduksi proses penalaran mendalam. Selain itu, OECD menggarisbawahi masih tingginya tingkat kecemasan matematika serta belum kondusifnya iklim belajar di banyak sekolah.
Meskipun diagnosis OECD tepat secara makro, instrumen PISA bekerja berdasarkan sampel lintas negara untuk mengukur capaian umum siswa usia 15 tahun. PISA memberi tahu kita tentang apa yang terjadi di tingkat permukaan, tetapi tidak dirancang untuk membongkar mekanisme internal di level tata kelola sekolah lokal.
Penulis beberapa waktu lalu menganalisis data rapor pendidikan tahun 2021-2025. Analisis penulis mengonfirmasi penurunan nilai Matematika PISA 2025 ini.
Catatan Temuan Utama: Satu temuan mendasar dari analisis Penulis adalah perbedaan karakteristik Numerasi (dalam hal ini Matematika) dan Literasi. Kompetensi matematika bersifat school-driven, berbeda dengan kemampuan literasi yang cenderung society-driven. Kemampuan membaca bisa ditopang oleh interaksi sosial, tradisi tutur keluarga, maupun paparan media di lingkungan rumah, Sedangkan penguasaan Matematika hampir sepenuhnya bergantung pada proses pembelajaran formal di sekolah. Ketika kualitas pengajaran matematika di ruang kelas mengalami disfungsi, tidak ada jaring pengaman sosial di luar sekolah yang mampu menambal defisit kognitif siswa. Hal inilah yang membuat skor matematika sangat rentan anjlok.
Sifat school-driven ini makin terkonfirmasi dari analisis mendalam Penulis bahwa kelemahan terbesar siswa terjadi spesifik pada sub-domain Data dan Ketidakpastian. Pembelajaran matematika di ruang kelas kita masih didominasi oleh prosedur komputasi statis dan hafalan rumus mekanis. Ketika siswa dihadapkan pada soal-soal PISA yang menuntut kemampuan membaca pola data, inferensi tabel, dan navigasi ketidakpastian dunia nyata, tingkat ketercapaian kognitif siswa langsung turun.
Disorientasi pembelajaran di sekolah semakin kentara oleh temuan mengenai paradoks fasilitas teknologi informasi dan komunikasi. Analisis Penulis pada jenjang sekolah menengah pertama menunjukkan bahwa penambahan kuantitas perangkat komputer atau gawai di sekolah justru berkorelasi negatif (\(r < 0\)) terhadap capaian kognitif matematika. Di tingkat sekolah, keberadaan perangkat digital sering kali berhenti sebagai pemenuhan inventaris fisik atau sekadar penggunaan pasif untuk urusan administratif, bukannya diintegrasikan ke dalam metode pengajaran aktif yang mengasah logika matematika tingkat tinggi.
Tekanan pembelajaran formal tanpa ekosistem yang ramah juga berdampak pada kesehatan mental siswa. OECD menyoroti kecemasan matematika sebagai faktor penghambat, sementara analisis Penulis menyajikan dampak sosio-psikologis yang lebih nyata di lapangan. Ketika sekolah dipaksa mengejar target angka numerasi tanpa pembenahan iklim belajar, tekanan tersebut berpindah langsung ke siswa. Di daerah perdesaan, ketimpangan penguasaan matematika memicu ketegangan interaksi hingga tindakan perundungan antarsiswa. Pengujian empiris membuktikan bahwa Indeks Keamanan Sekolah dan Indeks Karakter jauh lebih menentukan ketahanan kognitif siswa dibanding sekadar fasilitas fisik atau rasio ukuran kelas.
Untuk merumuskan kebijakan pendidikan berbasis bukti, pembuat kebijakan harus mampu memisahkan fungsi kedua instrumen data ini secara tegas. Laporan PISA OECD berfungsi sebagai termometer makro global untuk memotret kedudukan relatif mutu pendidikan nasional di tingkat internasional. Sementara itu, tes nasional Rapor Pendidikan berfungsi sebagai diagnosis mekanisme lokal yang menjelaskan interaksi antara efektivitas pembelajaran, kualitas guru, dan keharmonisan iklim sekolah. Karena matematika adalah kompetensi yang murni school-driven, pemulihan numerasi nasional tidak akan berhasil jika hanya direspons dengan pengadaan gawai baru. Langkah perbaikan harus difokuskan langsung pada pembenahan kualitas interaksi pengajaran di kelas, penekanan pada sub-domain data dan ketidakpastian, serta penciptaan iklim sekolah yang memberikan rasa aman secara psikologis bagi siswa.