Narasi kesetaraan gender dalam dunia pendidikan kita sering kali berhenti pada capaian angka partisipasi. Namun, ketika kita membedah hasil belajar di tingkat nasional, muncul sebuah paradoks yang selama ini luput dari perhatian publik. Data panel longitudinal menunjukkan bahwa siswa perempuan di jenjang SMP Negeri mampu mempertahankan performa akademik yang stabil dan sejajar dengan rekan laki-laki mereka. Namun, fenomena drastis terjadi saat mereka melangkah ke gerbang SMA Negeri. Data empiris menyingkap sebuah anomali struktural di mana performa siswa perempuan justru mengalami tekanan dan penurunan signifikan begitu mereka menapaki jenjang pendidikan menengah atas.

Untuk memahami betapa tajamnya kontras ini, kita harus melihat perbandingan koefisien dampak variabel gender terhadap capaian literasi dan numerasi di kedua jenjang tersebut.
Tabel 1. Komparasi Dampak Gender (Siswa Perempuan) terhadap Capaian Literasi dan Numerasi
| Jenjang | Literasi (Verbal) | Numerasi (Logika) |
|---|---|---|
| SMP Negeri | -0,073 (ns) | -0,073 (ns) |
| SMA Negeri | -3,541 (*) | -7,187 (***) |
Catatan: (*) signifikan pada level 5%; (***) signifikan pada level 0,1%; (ns) tidak signifikan.
Data pada tabel di atas berbicara sangat lugas. Di jenjang SMP, variabel gender hampir tidak memiliki dampak yang berarti terhadap capaian hasil belajar. Kondisi ini berubah total saat siswa memasuki SMA, di mana siswa perempuan menghadapi hambatan nyata dengan koefisien negatif yang signifikan secara statistik pada literasi (-3,541) dan numerasi (-7,187).
Bagi pembaca yang ingin menelaah bukti empiris secara lebih mendalam, matriks data lengkap dapat diakses melalui: Analisis Ketimpangan Kurikulum Merdeka (SMP) dan Gugatan Jender dan Geografi terhadap Mutu Pendidikan SMAN.
Makna di balik “tumbangnya” siswa perempuan di SMA adalah adanya kegagalan sistemik dalam menjaga keberlanjutan potensi mereka saat memasuki kurikulum yang lebih kompleks. Ini menjadi bukti bahwa kebijakan pendidikan kita tidak berjalan secara netral antar-jenjang.
Fenomena ini bukanlah masalah kapasitas intelektual, melainkan masalah efektivitas implementasi kebijakan yang tidak mampu melindungi capaian siswa perempuan. Tanpa intervensi yang serius dan tersegmentasi, sistem pendidikan kita berisiko terus memproduksi ketimpangan yang merugikan masa depan jutaan siswa perempuan di Indonesia.